Novel Terjebak Ke Dunia Lain - Buatan Orang Bugis

Judul Novel : Lapuza 2030
  • Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran dari Tahun 2030 terjebak di Dunia Penyihir
  • Session : 1 (Negeri Penyihir)
  • Episode : 1
  • Tanggal Rilis : 24 Desember 2025
  • Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
  • Genre : Action & Petualangan, Fantasy, Isekai, Comedy, Echi
  • Credit : Blogger Sulawesi

EPISODE 1
P1. Dunia Tahun 2030
Dunia dimana Teknologi menjadi Raja
Tahun 2030 adalah era ketika manusia menyerahkan hampir seluruh keputusan penting kepada sistem. Kota bergerak dengan presisi yang menakjubkan lampu lalu lintas menyesuaikan emosi pengendara, gedung mengatur konsumsi energi sendiri, dan kecerdasan buatan menentukan siapa yang layak bekerja, belajar, dan bertahan. Dunia tampak adil, efisien, dan hampir tanpa cela. Namun di balik keteraturan itu, manusia perlahan kehilangan ruang untuk menjadi berbeda. Semua potensi diukur, diklasifikasi, dan disaring. Bukan berdasarkan usaha, tetapi kesesuaian.

Kemajuan ini menciptakan dunia tanpa kekacauan, namun juga tanpa toleransi terhadap keanehan. Mereka yang tidak masuk standar tidak dihukum mereka hanya tidak dipilih. Dunia tidak membenci mereka. Dunia bahkan tidak menyadari keberadaan mereka. Di tahun 2030, kegagalan bukan tragedi yang dramatis, melainkan data yang ditandai merah dan dibiarkan tenggelam di arsip digital.

Di tengah peradaban yang berjalan nyaris sempurna ini, ada manusia yang justru terlalu manusiawi untuk sistem. Mereka berpikir melompat, belajar dengan cara sendiri, dan melihat hubungan yang tidak tercatat dalam algoritma. Dunia tidak rusak, tetapi juga tidak menyediakan tempat bagi mereka.

P2. Kehidupan Lapuza
Pemuda yang Bertahan dengan Senyum
Lapuza adalah salah satu dari manusia yang tumbuh terlalu cepat di dunia yang salah. Sejak muda, pikirannya bergerak melampaui kebanyakan orang. Ia memahami mesin bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai sistem berpola yang bisa “dibaca” hanya dengan melihat susunannya. Ia mampu membongkar perangkat rumit tanpa panik, menemukan kesalahan yang luput dari sensor otomatis, dan menyusun solusi yang bahkan kecerdasan buatan butuh waktu lama untuk mencernanya. Namun semua itu berkembang liar tanpa ijazah prestisius, tanpa rekomendasi, tanpa relasi. Ia menjadi cerdas dengan cara yang tidak disukai dunia.

Awalnya, keluarganya bangga. Mereka menyebutnya jenius, harapan masa depan. Namun kebanggaan itu perlahan berubah menjadi kebingungan, lalu kekecewaan. Tahun demi tahun berlalu, dan hasil yang diharapkan tidak pernah datang. Hingga suatu malam, kalimat itu akhirnya diucapkan.

“Kamu pintar, tapi tidak berguna.”
“Kami butuh anak yang nyata hasilnya, bukan mimpi.”


Tidak ada teriakan. Tidak ada amarah. Hanya keputusan dingin.
Lapuza diminta pergi bukan karena dibenci, tetapi karena dianggap beban.
Ia tersenyum saat mengemasi barang-barangnya. Ia bahkan menunduk hormat.

Maaf… aku akan cari jalan sendiri.

Di luar rumah itu, hujan turun pelan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sendirian.

Ia mencoba bertahan dengan cara yang diajarkan dunia. Melamar pekerjaan. Mengikuti seleksi. Menyesuaikan diri. Namun setiap usaha berakhir sama. Layar hologram menampilkan kalimat yang kini terasa seperti vonis hidup.

“Maaf, Anda tidak memenuhi kriteria perusahaan kami.”

Lapuza menatapnya lama, lalu tersenyum kecil, senyum yang sudah ia latih dengan baik.

Tidak memenuhi kriteria… lagi.
Berarti aku salah lahir, ya?


Ia tidak marah. Ia hanya perlahan menyusut. Sistem tidak menolaknya secara kasar, sistem hanya tidak menyediakan tempat baginya. Dan sesuatu yang tidak bisa ditempatkan… akan dibiarkan menghilang.

Teman-temannya satu per satu menjauh. Obrolan grup berhenti menyebut namanya. Undangan bertemu berubah menjadi alasan sibuk. Saat mereka berpapasan di jalan, senyum yang dulu hangat kini terasa canggung. Ada yang menatap iba. Ada yang menatap sinis.

“Sayang, pintar tapi nasibnya begitu.”

Kalimat itu pernah ia dengar. Dan ia pura-pura tidak mendengarnya.

Ada masa ketika Lapuza masih berani bermimpi. Ia membayangkan dirinya berdiri di depan layar raksasa, mempresentasikan teknologi revolusioner yang mengubah dunia. Ia membayangkan namanya disebut sebagai perintis, bukan pengikut. Dalam khayalannya, ia tidak butuh relasi hanya ide dan keberanian. Namun setiap kali kembali ke dunia nyata, mimpi itu runtuh sebelum sempat berdiri. Dunia tidak berjalan dengan kemampuan saja. Dunia berjalan dengan koneksi. Dan Lapuza tidak punya apa pun selain dirinya sendiri.

Hubungan cintanya pun tidak bertahan. Bukan karena tidak ada rasa, tetapi karena masa depan yang tidak jelas.

“Aku capek menunggu,”
“Aku butuh kepastian, bukan janji potensi.”


Ia mengangguk. Tersenyum.
Dan melepaskan orang terakhir yang masih mempercayainya.

Kamar kosnya kini menjadi tempat pelarian terakhir. Sempit, berantakan, dipenuhi pakaian kusut, komponen elektronik, dan tumpukan lamaran kerja yang ditolak. Ia hidup dari pekerjaan kecil, memperbaiki alat orang lain, membantu sistem yang tidak pernah membantunya. Setiap malam, ia pulang dengan langkah ringan dan senyum sopan, seolah hidupnya baik-baik saja.

Padahal ada malam-malam ketika ia berdiri lama di tepi jendela, menatap kosong ke bawah. Bukan karena ingin mati, tetapi karena ingin berhenti merasa tidak berguna.

Kalau aku menghilang…
…apakah ada yang benar-benar kehilangan?

Ia selalu menghela napas, lalu mundur selangkah.
Bukan karena takut mati, melainkan karena ia masih terlalu keras kepala untuk menyerah.

Malam itu, ia berbaring menatap langit-langit kamar yang retak. Garis-garisnya tampak seperti jalur hidup yang salah arah. Senyum kecil masih terukir di wajahnya, kebiasaan yang tidak ia sadari.

“Untuk apa aku hidup…”
“…kalau dunia ini tidak pernah membutuhkanku..???”


Pertanyaan itu tidak diucapkan keras-keras. Tidak ada tangisan. Tidak ada kemarahan. Hanya kelelahan yang akhirnya mencapai dasar terdalam.

Dan tepat di titik itulah,
saat Lapuza berhenti berharap dunia akan berubah,
dunia justru bersiap mengguncangnya.

P3. Malam Gempa Kosmik
Saat Dunia Salah Menekan “Continue”
Malam kembali jatuh di kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Di kamar kosnya yang sempit, Lapuza duduk bersandar di ranjang sambil menatap layar kecil di depannya. Sebuah gim lama, genre petualangan yang sudah ia mainkan berulang kali. Bukan karena ia belum tamat, melainkan karena di dunia itu, usaha selalu berbuah hasil. Jika gagal, cukup ulang dari titik terakhir. Tidak ada sistem yang menolak. Tidak ada formulir. Tidak ada penilaian tak kasat mata.

Karakter di layar akhirnya mencapai level maksimum. Notifikasi kemenangan muncul dengan efek cahaya berlebihan.

“Selamat! Anda menjadi Pahlawan Dunia.”

Lapuza tersenyum tipis.

“Andai di dunia nyata segampang itu,”
gumamnya pelan, setengah bercanda pada dirinya sendiri.

Ia menekan tombol save, lalu pause. Tangannya terhenti beberapa detik, seolah berharap layar itu bisa menawarkan sesuatu yang lebih. Tapi tetap saja begitu dimatikan, ia kembali menjadi dirinya yang tidak punya apa-apa selain malam.

Ia menjatuhkan tubuh ke kasur, masih memegang kontrol gim di tangan. Lampu kamar menyala redup, bergetar sedikit karena kabel tua yang longgar. Matanya terpejam setengah membayangkan apa makna sebenarnya dibalik hidupnya.

Lalu…
getaran kecil menjalar dari lantai.

Lapuza mengerjap.

Truk lewat?
Atau bangunan tua ini akhirnya menyerah?


Ia menghela napas, mencoba memejamkan mata kembali sampai getaran itu datang lagi. Lebih kuat. Lebih dalam. Seolah lantai tidak sekadar berguncang, tetapi bernapas.

Detik berikutnya...

DUAAAAAR!!!

Seluruh kosan bergetar hebat. Lampu padam seketika. Rak buku roboh. Komponen elektronik beterbangan. Lapuza refleks duduk.

“Serius? Jalan cerita hidupku cuma sampai disini?” 
ucapnya dalam hati sembari membayangkan gempa dan tsunami aceh

Belum sempat ia berdiri, lantai tepat di bawah ranjangnya retak membelah dengan suara mengerikan. Namun yang membuat tubuhnya membeku bukan kerusakan itu, melainkan sensasi aneh yang menyertainya.

Getaran ini…
tidak terasa berasal dari luar.


Dadanya mendadak sesak. Napasnya tersendat, seperti ada tangan tak terlihat yang menarik sesuatu dari dalam dirinya, bukan tubuh, melainkan keberadaannya sendiri. Udara di kamar berdenyut, melengkung, seolah ruang kehilangan kesepakatan dengan logika.

Ini bukan gempa… Ucap Lapuza kebingungan...

Retakan di lantai memancarkan cahaya biru terang. Bukan seperti listrik. Bukan api. Cahaya itu berputar, membentuk pusaran yang menyedot debu, benda, bahkan suara. Kontrol gim di tangan Lapuza terlepas dan melayang.

Ironisnya, layar gim yang masih menyala menampilkan pesan terakhir:

“Apakah Anda ingin melanjutkan petualangan?”

Lapuza menatapnya dengan mata melebar, terkejut dengan keanehan yang terlalu kebetulan itu.

“Masksudmu Rahinggg...”

Atap kamar mulai runtuh. Cahaya biru menyembur semakin kuat, menelan ranjang, dinding, dan akhirnya tubuh Lapuza sendiri. Sensasi ringan menyapu dirinya seperti jatuh, tapi tanpa arah. Seperti terbang, tapi tanpa tujuan.

Pikiran terakhir yang sempat terlintas di benaknya justru sederhana dan konyol:

Kalau ini mimpi…
…tolong jangan bangunin aku di dunia yang sama.


Dan pada detik berikutnya...
dunia 2030 menghilang.

P4. Apakah ini Surga? “Baiklah… Aku Mati”

WUSSSHHH!!!

Cahaya biru menelan tubuh Lapuza sepenuhnya.

Tidak ada rasa sakit. Tidak ada teriakan. Tidak ada sensasi jatuh seperti yang sering digambarkan di film. Yang ada hanya satu perasaan aneh seperti dicabut dari eksistensi, lalu diletakkan di tempat yang bahkan belum siap menerimanya.

Suara menghilang. Berat badan lenyap. Pikiran melayang tanpa arah.

Jadi begini rasanya…
…ketika akhirnya aku benar-benar dikeluarkan dari dunia membosankan itu.


Ketika kesadarannya kembali, sesuatu yang lembut dan dingin menyentuh punggungnya.

Pasir.

Lapuza membuka mata perlahan. Cahaya menyilaukan memaksanya menyipit. Langit di atasnya… ungu. Bukan efek polusi, bukan gangguan visual, melainkan ungu murni dihiasi tiga bulan besar yang menggantung megah, seolah pamer bahwa hukum astronomi tidak lagi berlaku.

Ia diam lama. Terlalu lama.

“…Oke,” gumamnya akhirnya.
“Aku mati.”


Ia bangkit setengah duduk, menepuk-nepuk dadanya, lengannya, kakinya.

Lengkap. Utuh. Bahkan sakit punggung akibat kasur murahnya juga masih terasa.

“…Mati tapi masih pegal?”
Ia mengangguk pelan.
“Afterlife versi ekonomis, ya.”

Aroma laut menyusup ke hidungnya. Angin asin menyentuh wajahnya. Air di hadapannya jernih berkilau seperti kaca cair berwarna biru keperakan yang tidak pernah ia lihat di dunia nyata.

Ia berdiri, sedikit limbung.

“Kalau ini mimpi… detailnya kelewat niat.”

Tiba-tiba...
SUARA TAWA membelah udara.

Lapuza menoleh.

Di langit.

Sekelompok wanita muda MELAYANG di udara, berdiri di atas sapu sihir yang berkilauan. Mereka tertawa, saling kejar, berputar bebas seperti adegan pembuka gim RPG kelas AAA.

Yang membuat otak Lapuza error bukan hanya fakta bahwa mereka terbang.

Melainkan penampilan mereka.

Pakaian penyihir yang… ahhh sudahlah...
terlalu terbuka untuk ukuran praktis, didukung buah melon jumbo yang mengayun indah didada mereka. Rok pendek yang hampir menampakkan pinggir hutan amazon nan rimbun, belahan bantal belakangnya bergoyang searah menggumpal, pakaian ketat yang jelas tidak dirancang untuk “keamanan kerja”. Rambut berwarna-warni tertiup angin, kulit mereka bersinar terkena cahaya tiga bulan.

Lapuza refleks menutup mata.

Membuka lagi.

Menutup lagi.

“…Tidak,” katanya tegas.
“Ini pasti halusinasi.”

"Kedua Buah melonnya terlalu realistis untuk disebut imajinasi, ahh tidak itu bukan buah melon itu semangka bangkok" ujarnya sembari membayangkan tokoh anime idolanya "Akeno Himejima"

Ia menepuk pipinya sendiri. Sekali. Dua kali.

Para penyihir itu melintas rendah, cukup dekat hingga ia bisa melihat detailnya, bahkan terlalu detail. Salah satu dari mereka menoleh, matanya melebar saat melihat Lapuza.

“Hei! Ada orang di pantai!”

Sapu mereka berputar. Jejak cahaya hijau-ungu berkilau di udara.

Lapuza menelan ludah.

Tenang. Fokus.
Manusia 2030. Logika dulu. Gunung kembar itu bonus!


“Kesimpulan,” gumamnya cepat.
“Satu: aku mati.”
“Dua: ini surga.”
“Tiga: servernya Wibu Jepang.”


Salah satu penyihir turun terlalu dekat, hampir menabraknya panik, sembari mengamankan gunung kembarnya yang bergoyang nyaris terlepas. Ia refleks mundur, wajahnya memerah.

“J-jaga jarak!”
“Ini jelas dunia fantasi berperingkat dewasa!”


"Haram...haram... bukan muhrim!" ucapnya membayangkan siksa neraka versi konten tiktok

Para penyihir itu saling pandang. Lalu… tertawa keras sembari membiarkan goyangan gunung kembarnya berdansa tak beraturan.

“Apa yang dia bicarakan?”
“Bahasanya aneh!”
“Dia pakai pakaian apa itu?”


Lapuza menunjuk mereka balik, panik.

“D-dan kalian! Terbang pakai sapu! Pakaian setengah jadi?
"Itu cuma ada di... di halaman baru yang dapat diakses hanya dengan mengaktifkan VPN” ujarnya dengan tatapan fokus ke arah dada dan pinggul penyihir itu sembari menahan kedipan.

Untuk pertama kalinya, sebuah kemungkinan yang ia hindari sejak tadi menghantam pikirannya.

Bagaimana kalau aku tidak mati…
…tapi benar-benar dipindahkan?


Salah satu penyihir mengangkat sapunya, bersikap waspada.

“Hei! Kamu! Kamu dari kerajaan mana?”

Lapuza membuka mulut. Menutup lagi.

“…Aku?”
Ia menunjuk dirinya sendiri, tertawa kaku.
“Aku dari… kos-kosan.”

Keheningan jatuh.

Dan pada detik itu...
dunia ini tidak menolaknya.

Sebaliknya,
dunia ini justru terkejut oleh kedatangannya.

Bersambung ke Episode 2

Baca Kelanjutan Episode 2 disini... 
Sebelumnya
This is the current newest page
Berikutnya
Next Post »